Powered by Blogger.
RSS

Arti Nilai Rapot dan Semacamnya

Nilai.. nilai... dan nilai lagi...
Itulah yang selalu dikeluhkan oleh para pelajar masa kini. Ketakutan mendapat nilai yang jelek telah membuat sebagian siswa memilih untuk menggunakan cara yang tidak halal untuk mendapatkanya. Baik dengan cara mencontek, mengepek, atau semacamnya. Hal itu sering kali kita temukan di dalam dunia pendidikan, terutama bagi siswa yang masih sekolah (SD, SMP, SMA). Namun bukanlah hal yang tak mungkin pula bila mahasiswa pun juga melakukan hal yang sama.
Dengan berkembangan IPTEK di negeri ini telah membuat siswa menjadi malas untuk belajar, mereka memilih untuk asyik bermain dengan gadget mereka dan cenderung tak menghiraukan ornag lain. Ketika hari H ujian mereka barulah mereka sadar dan mulai belajar dengan serius (kebut semalam). Namun kita tau bahwa itu sangatlah tidak efektif. Alangkah baiknya bila kita belajar sedikit - sedikit dalam waktu satu jam dan meanjutkannya di waktu yang lain namun dengan rentang waktu yang tak begitu jauh agar materi sebelumnya tak lupa.
Namun, bila kita melihat dari sisi orang yang pandai mereka akan cenderung berusah belajar dengan sungguh - sungguh dan dapat di pastikan mereka akan menggunakan hampir semua waktu yang mereka punya untuk mempelajari semua materi yang harus di pelajari. Untuk apa??
Jawaban yang pasti adalah untuk mendapatkan niai baik atau bahkan sempurna.
Untuk apa??
Pastilah untuk mmpermudah mereka untuk mendaftar ke sekolah tingkat lanjut yang mereka inginkan atau untuk mencari kerja.
Namun taukah mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu tak selamanya membawa dampak baik,  baik dengan dirinya sendiri ataupun dengan orang lain?
Jawabannya tentu saja tidak.
Mengapa??
Kita mencoba melihat dari sisi anak yang malas belajar, pasti anak itu akan mencontek pada hari h ulangan atau membuat kepekan. padahal kita tau bahwa membuat contekan atau kepekan itu merupakan hal yang tidak baik. Ada 3 kemungkinan yang terjadi bila kita mencontek  atau mengepek saat ujian.
1. Ketahuan oleh pengawas dan akirnya pekerjaanmu diminta.
2. Tak sempat membuka karna pengawasan yang sangat ketat dan akibatnya tak dapat menjawab soal.
3. Tidak ketahuan.
Bila mereka berhasil menyontek dan mengepek dan kebetulan yang mereka contek dan kepek itu benar, sudah dapat dipastikan dia akan mendapatkan nilai yang sempurna. Namun di tengah - tengah perasaan mereka yang mendapatkan nilai sempurna itu tersiratkah perasaan puas dengan diri sendiri dari hasil yang di terima???
Jawabannya: Mungkin iya, seneng. tapi gak puas karna bukan hasil pemikiran sendiri.
Itulah jawaban yang akan diberikan oelh orang - orang yang yang sadar dengan apa yang telah diperbuat. Memang Bangga mendapatkan nilai sempurna, namun bangganya beda. Hanya ketenaran nama yang iya dapatkan dan pujian dari orang yang tak mngetahui bahwa dia mencontek, akan tetapi terasa sangat hampa di dalam hatinya.
Sekarang kita mencoba melihat dari sisi anak yang rajin yang selalu berambisi untuk mendapatkan nilai sempurna. Kita pasti mengetahui bahwa hidup itu membutuhkan perjuangan untuk memperoleh apa yang kita inginkan, dan kalimat inilah yang menjadi landasan sebagian besar anak - anak pintar di negeri ini. Ambisi yang terlalu besar menuntuk mereka untuk bertindak lebih keras terhadap dirinya sendiri tanpa mencoba untuk bersabar dan mencoba untuk memahami situasi yang ada. Semua itu nantinya akan berdampak bagi diri mereka sendiri. Kok bisa???
Coba kita perhatikan dengan lebih seksama. Anak pintar itu pasti sombong, meskipun terkadang mereka tak menunjukkannya secara terang - terangan (bukan iri namun berdasarkan survey yang ada kebanyakan seperti itu). Yang ke dua, anak pintar itu kebanyakan egois. Mereka akan memikirkan diri mereka sendiri terlebih dahulu dan tak menghiraukan orang lain di sekitarnya (memang benar bahwa kita harus memperhatikan diri sendiri terlebih dahulu baru kita memikirkan orang lain. Namun, apakah semuanya harus begitu?? Sebagai contoh ada seorang nenek - nenek yang ingin menyebrang di jalan raya. Kebetulan kita sedang lewat disitu, dan saat itu kita dalam keadaan terburu - buru karena ttaku terlambat masuk sekolah. Lantas apa yang akan kita lakukan? Membiarkan nenek itu? atau Membantunya? Hal itu merupan dilema yang sering dialami oleh orang - orang di negeri ini. dan kebanyakan dari mereka akan pura - pura acuh dan tetap melanjutkan perjalannya. Keegoisan macam itulah yang merupakan hal sepele namun berarti banyak), dan beberapa hal lainnya yang pada intinya hanya untuk mencapai satu tujuan, yaitu nilai yang sempurna.
Lantas bagaimana bila mereka tak mendapatkan nilai sempurna?? Jawabannya hanya 1, mereka akan setress. Dan itu artinya mereka akan merasakan penyesalan dan sebagian dari mereka mungkin ada yang tak mempunyai semangat untuk bangkit.
Dari semua kejadian itu kita tahu bahwa nilai hanyalah tolak ukur dalam dunia pendidikan. Namun tak sadarkan mereka bahwa nilai itu buatan manusia? Dan nilai itu sebenarnya hanyalah sebuah simbolis semata??
Banyak orang di luar sana yang dapat nilai jelek namun mereka dapat sekolah di sekolah yang mereka inginkan tanpa menggunnakan uang dan malah mendapatkan beasiswa? Hanya dengan bermodal kejujuran dan usaha yang keras yang disertai dengan doa mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mudah dan dapat mengalahkan mereka - mereka yang memiliki nilai sempuna.
Sebagai kisah, ada seorang gadis keturunan anak yang kurang mampu. Sejak SD, SMP, dan SMA dia selalu mendapatkan beasiswa. Namun anehnya dia bukanlah gadis yang pintar, meskipun orang - orang disekitarnya sering kali mengatakan bahwa dia adalah anak yang pintar. Dimasa SMAnya iya mendapatkan suatu masalah yang akhirnya menggangu pikirannya setiap kali ia pulang ke rumah. Sampai akhirnya tibalah di hari h ujian nasional. Di dalam kesendiriannya, dia berfikir 'gimana ya hasil ujianku nanti sedangkan materinya saja belum sepenuhnya di kuasai'. Di tatapnya lingkungan sekitarnya. ada beberapa temannya yang memilih untuk menggerombol untuk membaca soal dan apa pula yang bergelombol untuk mempersiapkan kecurangan - kecurangan untuk ujian nanti. Dalam hati gadis itu mulai gundah, dia bingung apakah dia harus mengerjakan dengan jujur dengan berbekal pengetahuan yang ia miliki, ataukah memilih untuk mencontek saja. Hingga hari h ujian dia memilih untuk mengerjakan dengan jujur. Namun, suatu ketika saat ujian di materi yang tak ia kuasai, ia mencoba untuk membuktikan apakah benar dengan melihat kepekan kita akan mendapatkan nilai yang sempurna. dan di hari itu dia mencoba membuktikannya. Waktu telah lama berlalu sampai akhirnya tibalah saat pengumuman hasil ujian. Tanpa disangka, ternyata ketakutannya selama ini benar, dia mendapatkan nilai UN terburuk di kelasnya. Awalnya gadis itu menyesali kenapa dia tidak mencontek saja. Namun setelah lama ia melihat hasil ujiannya dia baru menyadari bahwa nilai ujian yang dia mencontek pun juga tidak sempurna. Dan dia pun mulai berfikir bahwa tak selamanya mencontek itu akan mendpaatkan nilai yang sempurna. Dari situlah dia berusaha untuk bangkit, dia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa mencontek dan mendapatkan nilai sempurna itu bukan jaminan untuk mendapatkan sekolah favorite yang diinginkan. Dengan giat dia berdoa dan berserah diri kepada Allah.
Hingga pada saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru, dia masuk dan terdaftar sebagai mahasiswa di salah satu universitas negeri di kotanya dan tentunya memiliki kualitas yang bagus. Teman - temannya banyak yang terheran - heran karna mereka yang memiliki nilai sempurna saja tidak dapat masuk tapi mengapa anak dengan nilai terendah dikelas dapat masuk ke universitas berakreditasi dengan jalur undangan?
Dari cerita itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nilai itu bukanlah segala - galanya. hanya orang bodoh dan tak pandai bersyukurlah yang mampu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang sempurna dan mungkin pada akhrinya mereka tak mendapatkan apa yang mereka inginkan. 'Bila kita mengerti apa makna dari kata bersyukur, maka kita akan tau bagaimana rasanya menikmati hidup yang indah ini' (my Quotes).
Okay, saya rasa cukup sekian, semoga bermanfaat dan ada hikamh yang dapat Anda ambil dari tulisan ini. See you next time :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perilaku Tak Sopan Membuat Lara Seseorang

Bercanda, bercerita, belajar bersama, merupakan beberapa aktivitas yang selalu dilakukan di dalam hidupnya. Dengan cara seperti itulah seseorang akan lebih mengenal orang lain dengan lebih mudah. Mengenal belum tentu mengerti orang tersebut, bahkan orang yang sudah lama saling mengenalpun belum tentu ia benar - benar mengerti dan memahami orang tersebut. Kebanyakan dari mereka, mereka tak mengerti perasaan orang tersebut secara pasti dan akhirnya memutuskan untuk menunjukkan diri sendiri kepada orang tersebut tanpa mau mencoba untuk mengerti bagaimana dan seperti apa orang tersebut.
Sebagai contoh umum, ketika berada di dalam kelas, pastilah banyak anak dengan berbagai karakter dan satu hal yang pasti itu adalah ada satu orang yang paling cerewet di kelas dan orang yang paling pendiem di kelas. Anak cerewet itu dapat dipastikan pasti sering berbicara keras atau bahkan berterriak - teriak untuk sesuatu yang tak penting, dan tentunya akan sangat mengganggu si pendiam. Namun apakah anak cerewet itu mngerti atau bahkan memahami perasaan si pendiam itu?? Jawabannya pastilah tidak, bahkan mungkin dia akan menganggap orang tersebut aneh.
Contoh lain adalah saat kita sedang berbicara dengan seseorang terkadang ada beberapa gerakan yang kadang tak kita sukai dari orang tersebut. Seperti memukul bahu, menginjak kaki atau yang paling parah adalah ketika memanggil seseorang dia menggunakan kakinya untuk menendang orang yang diajak bicara agar orang itu menatapnya. Kejadian - kejadian seperti itulah yang akhirnya membuat seseorang sakit hati. Pertanyaannya adalah apakah orang yang melakukan semua itu mengerti perasaan orang yang dia sakiti dengan tak sengaja?? Sebagian besar jawabannya adalah tidak.
Mereka semua cenderung cuek dan tak peduli dengan semua itu. Namun bila mereka lebih berhati - hati dalam bertindak, mereka akan melihat betapa salahnya perbuatan mereka dan betapa terlihatnya ekspresi orang yang tersakiti. Setelah kita mengetahui semua itu pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana solusinya??
Solusi yang pertama dan yang paling utama adalah pahami diri sendiri, cobalah untuk mengontrol semua aktivitasmu tanpa mengekang atau bahkan menyiksa diri sendiri, lakukan itu dengan perlahan. Yang kedua, ketika kita melihat dan mengerti kesalahan kita, segeralah meminta maaf agar orang tersebut tak merasa sakit hati yang berkelanjutan. Terkadang orang yang mengatakan dia tak marah, sebenarnya tak sepenuhnya dia tak marah, meski sedikit, pastilah perasaan itu tetap ada. Hilangkan gengsi sejenak dan meminta maaflah segera. Semua itu demi kebaikan diri sendiri di masa yang akan datang. Setelah semua itu dilakukan engkau akan mengerti apa lagi yang harus kau lakukan selanjutnya dan semoga itu merupakan perbuatan yang baik. Dan tentunya dengan membawa manfaat bagi lingkungannya.
Sekian, see you next time :) 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS